/*Kode Address Berjalan*/

Maret 15, 2013

"Sahabat Terbaik"

Cerpen Sedih Tentang Persahabatan
Persahabatan bukan hanya sekedar kata, 
yang ditulis pada sehelai kertas tak bermakna, 
tapi persahabatan merupakan sebuah ikatan suci, 
yang ditoreh diatas dua hati, 
ditulis dengan tinta kasih sayang, 
dan suatu saat akan dihapus dengan tetesan darah dan mungkin nyawa"..

**
“Key… sini dech cepetan, aku ada sesuatu buat kamu”, panggil Nayra suatu sore. 
“Iya, sebentar, sabar dikit kenapa sich?, kamu kan tau aku gak bisa melihat”, jawab seorang gadis yang dipanggil Key dari balik pintu.

Keynaya Wulandari, begitulah nama gadis tadi, meskipun lahir dengan keterbatasan fisik, dia tidak pernah mengeluh, semangatnya menjalani bahtera hidup tak pernah padam. Lahir dengan kondisi buta, tidak membuatnya berkecil hati, secara fisik matanya tidak bisa melihat warna-warni dunia, tapi mata hatinya bisa melihat jauh ke dalam kehidupan seseorang. Mempunyai hoby melukis sejak kecil, dengan keterbatasannya, Key selalu mengasah bakatnya. Tak pernah sedikitpun dia menyerah.

Duduk di bangku kelas XII di sebuah Sekolah Luar Biasa di kotanya, Keynaya tidak pernah absen meraih peringkat dikelas, bahkan guru-gurunya termotivasi dengan sifat pantang menyerah Key. Sejak baru berusia 3 tahun, Keynaya sudah bersahabat dengan anak tetangganya yang bernama Nayra Amrita, Nayra anak seorang direktur bank swasta di kota mereka. Nayra cantik, pinter dan secara fisik Nayra kelihatan sempurna.

***
Seperti sore ini, Nayra sudah nangkring di rumah Key. Dia berbincang-bincang dengan Key, sambil menemani sahabatnya itu melukis.
“Key, lukisan kamu bagus banget, nanti kamu ngadain pameran tunggal ya, biar semua orang tau bakat kamu”, kata Nayra membuka pembicaraan. 
“Hah”, Key mendesah pelan lalu mulai bicara, “Seandainya aku bisa Nay, pasti sudah aku lakukan, tapi apa daya, aku ini gak sempurna, seandainya aku mendapat donor kornea, dan aku bisa melihat, mungkin aku bahagia dan akan mengadakan pameran lukisan-lukisanku ini” ucap Keynaya dengan kepedihan.
“Suatu hari nanti Tuhan akan memberikan anugrahnya kepadamu, sahabat, pasti akan ada yang mendonorkan korneanya untuk seorang anak sebaik kamu,” timpal Nayra akhirnya.

Berbeda secara fisik, tidak pernah menjadi halangan di dalam jalinan persahabatan antara Nayra dan Keynaya, kemana pun Nayra pergi, dia selalu mengajak Key, kecuali sekolah tentunya, karena sekolah mereka berdua kan berbeda.

Sedang asik-asiknya dua sahabat ini bersenda gurau, tiba-tiba saja Nayra mengeluh,
“aduuh, kepala ku”
“Kamu kenapa Nay, sakit??” tanya Keynaya.
“Oh, ngga aku gak apa-apa Key, Cuma sedikit pusing saja”, ucap Nayra sambil tersenyum.
“Minum obat ya Nay, aku gak mau kamu kenapa-napa, nada bicara Key terdengar begitu khawatir.
“aku ijin pulang dulu ya Key, mau minum obat” ujar Nayra sambil berpamitan pulang.

Di kamarnya yang terkesan sangat elegan, nuansa coklat mendominasi di setiap sudut ruangan, Nayra terduduk lemas di atas ranjangnya,
“Ya Tuhan, berapa lama lagi usiaku di dunia ini?? Berapa lama lagi malaikatmu akan menjemputku untuk menghadapmu?” erang hati Nayra.
Di vonis menderita leukimia sejak 7 bulan lalu dan tidak akan berumur lama lagi sungguh menyakitkan bagi Nayra, usianya yang baru 18 tahun, dengan segudang cita-cita yang dia inginkan, sudah pasti tak satupun akan terwujud.

***
Pintu kamar Nayra tiba-tiba terbuka, seorang wanita cantik paruh baya masuk lalu duduk disampingnya. 
“Gimana rasanya sayang? Masih gak enak?? Kita ke dokter sekarang yuk!!!” ujar wanita itu dengan lembutnya.
“ngga usah, ma, aku sudah enakan kok, aku cuma mau beristirahat saja”, jawab Nayra dengan sopan. 
“ya sudah kalau begitu, mama tinggal dulu ya, istirahat ya, Nak,” ujar sang mama sambil mencium kening putri semata wayangnya.
“Makasih ma, aku selalu sayang mama,” lirih Nayra berujar.
Terus terang Nayra sudah tidak kuat menahan rasa sakitnya, tapi dia berusaha menyembunyikan itu dari orang tuanya.

Di ruang keluarga, ibu Rita, duduk sambil menemani sang suami sepulangnya dari kantor,
“Ma, Nayra kemana?? Kok papa gak melihatnya dari tadi?” tanya sang suami.
“Nayra lagi istirahat pa, dia pusing dan mengeluh sakit dari tadi”, jawab Rita.
“Sakit apa sebenarnya anak kita ma?? Kalau kita ajak ke dokter dia selalu menolak, papa rasa ada yang dia sembunyikan dari kita, aku takut penyakitnya parah,” dengan nada khawatir pak Artawan bicara dengan istrinya. 
“entahlah pa, mama juga bingung” ujar istrinya lagi.

***
Ternyata sakit yang dirasakan Nayra sore itu adalah pertanda dia akan segera di panggil menghadap Tuhan, saat minta ijin untuk istirahat pada mamanya, kesehatan Nayra benar-benar drop, dengan panik kedua orang tua Nayra melarikan putrinya ke rumah sakit, setelah mendapat penanganan oleh tim dokter, Nayra sedikit terlihat tenang, namun mukanya terlihat pucat, sinar matanya terlihat begitu redup.
“Pak Artawan, bisa kita bicara sebentar di ruangan saya”, kata dokter Gunawan, yang juga merupakan dokter pribadi keluarga Artawan.
“Baiklah dok, “ sambut pa Artawan.

Setelah pak Artawan dan ibu Rita duduk di ruangan dokter Gunawan, mereka akhirnya mulai bicara, 
“Maafkan saya sebelumnya pak, sebenarnya saya sudah tau penyakit yang diderita putri bapak sejak 7 bulan lalu, tapi karena putri bapak menyuruh saya merahasiakan penyakitnya kepada bapak dan ibu, saya gak bisa berbuat apa-apa. Putri bapak terkena leukimia,” ujar dokter Gunawan lirih.

Cukup lirih memang kata-kata dokter Gunawan, tapi mampu membuat jantung pak Artawan dan istrinya berdetak lebih cepat dari biasanya,
“Apa?? Leukemia? Separah apa dok??” keras nada suara pak Artawan.
“sudah parah pak, umur Nayra tidak akan lama” sambung dokter kembali.
Setelah berbicara lama dengan dokter, air mata tak pernah berhenti mengalir di pipi Rita. Dia begitu terpukul mendengar putrinya menderita penyakit itu.
“udah, ma, jangan nangis terus, pengobatan Nayra akan diusahakan, kita akan mengusahakan kesembuhannya, lebih baik kita berdoa, semoga Tuhan memberikan jalan terbaik buat keluarga kita”, hibur pak Artawan.
“mari kita tengok Nayra!!” ajaknya lagi.

Memasuki ruangan perawatan, ibu Rita berusaha menyembunyikan air matanya, dia tersenyum penuh kepedihan di samping ranjang putrinya,
“Mama, kenapa? Kok sedih begitu?” ujar Nayra lirih.
“Gak apa-apa sayang”, berbisik ibu Rita tak kuasa menahan air matanya.
“Maafkan Nayra, Ma, Pa, Nayra tak bermaksud membuat Mama dan Papa terluka seperti ini, Nayra hanya tak ingin menyusahkan kalian” Nayra berkata dengan terbata-bata.

Belum ada beberapa menit pak Artawan dan ibu Rita di kamar putrinya, tiba-tiba Nayra kejang-kejang. Dengan panik pak Artawan memanggil dokter Gunawan. Dokter Gunawan menangani Nayra lumayan lama, hingga akhirnya dokter Gunawan keluar, muka beliau kelihatan sangat sedih.
“Bagaimana anak saya, dok?” tanya pak Artawan.
“Maaf pak, kami disini sudah berusaha yang terbaik, tapi Tuhan berkehendak lain, Nayra sudah dipanggil menghadapNya” ucap dokter.
“Tidaaaaaaaaaaaaaaaaaakkk”, teriak ibu Rita isteris,“ Nayra tidak mungkin meninggal, Nayra masih hidup,” seluruh pengunjung rumah sakit menoleh ke arah mereka.
“Pak, sebelum meninggal, Nayra menitipkan ini ke saya, ini buat bapak dan ibu” imbuh dokter Gunawan sebelum mohon diri.

Sepeninggal Dokter Gunawan, pak Artawan dan istrinya membuka amplop kecil dari Nayra, isinya ternyata surat.
“Mama, papa, maafin Nayra sudah membuat mama dan papa jadi sedih, Nayra mohon sama mama dan papa, setelah Nayra meninggal, tolong berikan kornea mata Nay untuk Keynaya, tapi jangan bilang itu dari Nayra sebelum Keynaya benar-benar operasi dan bisa melihat lagi, dan satu lagi, mama tolong kasih Keynaya surat yang Nayra simpan di laci meja belajar Nayra yang amplopnya berwarna pink setelah Keynaya melihat nanti, dan surat buat mama dan papa ada di dalam amplop biru di laci yang sama. Sekian dulu Mama, papa, maaf kalau Nayra selalu ngerepotin kalian, Nayra sayang kalian, big kis & hug.. muacch”..
Nayra Amrita

Selain sepucuk surat itu, ada lagi sebuah surat pernyataan pendonoran kornea mata yang telah lengkap dengan tanda tangan Nayra. Hati orang tua Nayra tersayat, tapi tak ada yang bisa mereka lakukan selain memenuhi permintaan terakhir sang anak.

***
Sementara itu, di rumah Keynaya, tampak gadis cantik itu tengah duduk seorang diri di teras rumahnya. Wajahnya tampak sedikit murung,
“kemana si Nayra, sudah lebih dari 5 hari dia gak main ke sini, apa dia baik-baik saja?” gumamnya.
“Ma, Nayra pernah kesini gak dalam beberapa hari ini?” tanya Keynaya ke pada mamanya.
“Gak ada, Key, memang kenapa?” tanya sang mama.
“Gak apa-apa ma, aku ke rumah Nayra sebentar ya!!” Key meminta ijin ke mamanya.

Tapi diluar dugaan, mama Keynaya melarangnya pergi.
“Jangan Key, kita harus ke rumah sakit sekarang juga, tadi mama ditelepon sama pihak rumah sakit, katanya ada yang menyumbangkan korneanya khusus untuk kamu,” dengan tutur kata yang lembut mamanya menjelaskan.
“Yang bener, Ma? Key sudah dapat donor kornea?? Asik-asik, Key akan segera bisa melihat wajah Nayra, Key bisa segera menggelar pameran lukisan,” ucap Key berapi-api.
“Iya nak” jawab mamanya penuh kepedihan. “seandainya kamu tahu sayang, Nayra tak mungkin ada disamping kamu lagi, Nayra sudah tenang dialam sana, dan seandainya kamu tahu siapa orang yang mendonorkan korneanya untuk kamu” kata ibu Rasti dalam hati.

Waktu berjalan begitu cepat, operasi cangkok kornea sudah dilaksanakan dan sekarang adalah hari yang paling ditunggu-tunggu Keynaya, perban di matanya akan di buka, tim dokter beserta kedua orang tua Key sudah ada di ruangan Key. Sebelum perbannya di buka, Keynaya berujar,
“Ma, Pa, Nayra sudah datang?? Ku ingin sekali ada Nayra di sini pas aku bisa melihat”
“belum sayang, Nayra masih diluar kota” pedih rasanya hati ibu Rasti saat berujar.

Perban akhirnya di buka, samar-samar penglihatan Keynaya mulai melihat warna, melihat sosok kedua orang tuanya, dia tersenyum, semakin lama semakin jelas,
“Mama, papa aku bisa melihat kalian,” gembira sekali suara Keynaya.

***
Sudah 1 minggu semenjak Keynaya bisa melihat, hari ini dia memaksa ibunya agar diperbolehkan melihat Nayra, mengujungi Nayra,
“Kata mama Nayra sudah ada di rumah, berarti Key boleh main donk Ma, Key pingin ngajak Nayra jalan-jalan buat merayakan kesembuhan Key,”
“Iya, nak, mama sama papa temenin kamu ya!!”

Berbeda beberapa rumah antara Nayra dan Keynaya merupakan hal yang membahagiakan, tidak perlu capek-capek bermacet-macet ria di jalanan untuk mengunjunginya. Sesampai di rumah Nayra mereka disambut ramah oleh keluarga Nayra yang kebetulan lagi ada di rumah.
“Selamat sore tante Rita’” sapa Keynaya dengan senyum sumringah.
Setelah di persilahkan duduk dan menikmati hidangan ala kadarnya, Keynaya menanyakan keberadaan sahabat karibnya,
“mana Nayranya tante?? Kok gak kelihatan ada di rumah?”
“Nayranya… Nayra.. Nayra..” dengan terbata-bata ibu Rita menjawab.
“Nayra kenapa tante, kemana?? Nayra tidak apa-apa kan?” bertubi-tubi Keynaya bertanya.

Ibu Rita tak kuasa menjawab, beliau meninggalkan tamunya di ruang tamu dan berlari naik ke kamar Nayra, mengambil sepucuk surat yang dititipkan Nayra untuk Keynaya. Ibu Rita kembali ke ruang tamu dengan sepucuk surat di tangan,
“ini dari Nayra untuk kamu” ujarnya berlinang air mata kepada Keynaya.

Dengan tangan gemetar Keynaya membuka amplop berwarna pink yang cantik itu, ada pita pink juga di sudut amplonya.

Dear Keynaya

“Keynaya sayang, sahabatku yang paling baik, apa kabar hari ini?? Baik-baik sajakah?? Sehat-sehat?? Semoga sehat ya!! Key, saat kau membaca surat dari aku ini, mungkin aku sudah tak ada lagi di dunia ini, tak ada di samping kamu, tak bisa menemani kamu bermain, bercanda dan tertawa, maafkan aku ya Key.

Key sayang, sebenarnya aku ingin sekali cerita ke kamu tentang penyakitku, tapi aku takut membuat kamu kepikiran terus, takut buat kamu gelisah. Sebenarnya aku terkena penyakit leukemia, Key dan umurku tidak akan lama lagi.

Key sayang, meskipun aku telah pergi dari sisi kamu, tapi rasa sayang aku ke kamu tak akan pernah berubah, kamu sahabat terbaik di hidupku, kamu tempatku berkeluh kesah, tempatku menumpahkan suka dan duka. Key, ku tahu saat kau membaca ini, kau sudah bisa melihat indahnya dunia, sengaja ku berikan mataku untuk kamu Key, hanya itu yang bisa aku berikan, jaga mata itu seperti kau menjaga persahabatan kita.

Segitu dulu Key, maafkan aku karena harus pergi meninggalkanmu, terima kasih karena sudah memberikan aku arti selama hidup di dunia. Sampai ketemu suatu saat nanti Key, aku sayang kamu sahabatku.
Kiss and big hug my lovely friend, my best friend in my life….muaaachh…

Dariku yang selalu menyayangimu
Nayra Amrita

Air mata mengalir deras di pipi Keynaya,
“ini tidak mungkin” katanya lirih. Dia menangis sejadi-jadinya. Dia benar-benar tak percaya, sahabatnya sudah kembali ke pangkuan Tuhan, Keynaya menatap selembar foto yang juga ada di dalam amplop surat tadi, foto Nayra tersenyum manis ke arahnya, mata Nayra yang teduh, sekarang ada padanya. Keynaya meminta agar kedua orang tua Nayra mengantarnya ke kuburan.

Lumayan jauh dari rumah Nayra, kaki Keynaya lemah, tapi dia berusaha mengikuti langkah kaki orang tuanya dan orang tua Nayra ke sebuah makan yang begitu tertata rapi, taburan bunga masih segar, tanah pekuburannya juga masih basah.
Sebuah Nisan yang begitu cantik dihadapan Keynaya, membuatnya semakin terluka, jelas tersurat di batu nisan berwarna putih itu nama sahabat karibnya.

“Nayra Amrita Artawan”
Lahir 8 Januari 1994
Wafat 14 April 2011

Berjongkok Keynaya membelai nisan itu, gerimis turun membasahi nisan, semakin lama semakin deras, sederas airmata yang jatuh di pipi Keynaya,
“kenapa secepat ini kau tinggalkan aku, Nay?? Tega kamu?? Meninggalkan aku seorang diri disini.” Nayra, terima kasih sayang, kau telah memberikan aku sepasang mata untuk melihat dunia ini, terima kasih karena telah mengajariku tentang ketulusan sebuah persahabatan, terima kasih atas senyum termanis yang pernah kau hadirkan di hidupku” ucap Keynaya sambil terisak lirih di atas nisan.

Tangan lembut ibu Rasti terulur ke arah putrinya,
“Bangun Key, sudah, ikhlaskan saja Nayra, dia sudah tenang di sana, dia sudah berada di pangkuan Tuhan, yang harus kamu tahu, Nayra tak pernah ingin kamu cengeng, kamu harus tetap semangat menjalani hidup kamu,” bimbing ibu Rasti.
“iya ma, terima kasih, aku hanya sedih saja, tapi aku janji gak akan cengeng lagi setelah hari ini”, kata keynaya.

***

Maret 01, 2013

Nabilah


Nov 30, 2012  -     -  Public
cerita dikit bisa lah ya..buat motivasi nih :3 temen : bil..hari ini perform nggak ? |me : perform :D | temen : perform mulu nggak capek apa ? kan lu pagi nya ada les sama skolah | me : capek sih pasti..tapi klo kita cuma ngikutin capek nya kita..gue kapan maju nya dong hahaha :p

Februari 21, 2013

Ramadhan entry

I kind of miss blogging.... I miss staring into a blank 'new post' screen, cracking my head thinking how do I put that funny incident into words, that weird experience into a worthy blog entry or all those mind talks and post events reflections into blog posts that people would enjoy reading. I guess I got a bit derailed (sometimes) from my original intention of having this blog - leaving behind some notes for my children to read 'later'. So it shouldn't matter if my blog entries are not worth any glance by others. or impress any one at all. I should write from the heart for my children, just like how I intended it to be originally. Oh well.... kira macam JK Rowling la.. or yg tulis buku Narnia tu.... so the "fortune" is an accidental spill over benefit. Konon... hahaha... me in my 'I want to go to disneyland' mode again....

I kind of miss blogging. I miss reading blog updates from my favourite fellow bloggers. Near & afar. Most of whom I don't know personally. But some of whom have become further extensions to the list of wonderful people that I call blogosfrens (yeah...newly created. Sapa buleh tolong masukkan dalam wikipedia?) I miss following their stories. I miss their stories! Period. Because some seem to have not updated anymore. Some of them have drifted away from blogging too .... tooooot facebook. Kan? heheh... My personal distorted view. While I can't read blog updates by some because these some have sort of limited the access to their blogs to authorised readers @ members only, and obviously I am not one of them :(

Yeah... I kind of miss blogging.

But this is not the month to resuscitate blogging.

It cannot be.

Right? I think so.

For a very good reason.

Oh well.. Maybe I could do a bit of blogging if time permits in this holy month of ramadhan. Who created this concept of "if time permits" in the first place? If you want to do something, shouldn't you make time for it? Exactly my point. I kind of miss blogging. I am thinking that may be I should make some time for it. But I am reminding myself as I am typing this, that blogging should not be the first priority that I make time for in this holy month of Ramadhan.

And back to my original intention of starting this blog - catatan untuk anak-anak ibu yang tersayang - if I do blog during Ramadhan, I would need to remind myself that my blog entries should then be all things associated with the memories and reflections or anticipations or hopes of this year's Ramadhan. So then when I look back in the future, or when (if?) the kids do read them in the future, we shall be reminded of us, of our family, and how we spend our times with or without each other in Ramadhan kareem this year.

InsyaAllah.

Meanwhile, salam Ramadhan al-Mubarak to all fellow muslims who happen to manage to divert their attention from facebook for a short while and take a peek here instead. May you find peace and harmony with yourself, your loved ones and the Almighty, the ONLY ONE, in this holy month.

To my children,

Abang Idin... if only you could spend equal time bertaddarus compared to the time you spend you tubing, my spacing, facebooking.... alangkah bagus? Sejuk sikit hati ibu. Sejuk sikit CPU ni hah...

Hafiz... Puasa kerana apa? Bukan hanya kerana nak dapat pahala. Or kerana ibu. Or kerana nak dapat duit raya extra. Hokay?

Ameer... "Puasa sambung2" pun sambung2 lah ... this year tak pe. Next year, lain cerita.

Alisya... What can I say my lil princess? If only you know why I can't hold you too much longer after iftar & maghrib prayer this month, my dear. I'm sure you would know & understand later. Meanwhile, be good and sleep tight ok?

To Ayah, my hubby... let's pray that we would have the strength to continue this journey that we started 4 nights ago. A journey which path is crystal clear only during this holy month of Ramadhan. If time permits, I mean, we shall try to find some bit of time ... to further improve the rempeyek attempt and hope the rempeyeks will not be that "well done" (photos later peeps) next time around. ROTFL walau dalam keseriusan!!!

Februari 09, 2013

Lirik JKT48 Aitakatta

Aitakatta, aitakatta, aitakatta, yes!
Aitakatta, aitakatta, aitakatta, yes! denganmu

Bersepeda ku menanjaki bukit itu
Sekuat tenaga ku kayuh pedalnya
Angin pun mulai menghembus kemejaku
Ku rasa masih kurang cepat

Akhirnya ku sadari perasaan sebenarnya
Ingin jalani sejujurnya
Hanya di jalan ini ku akan terus berlari

Kamu berharga lebih dari siapa pun
Walau kau tolak tak akan ku sesali
Kamu berharga lebih dari siapa pun
Tadinya ku ingin ungkapkan rasa ini

Jika ku suka kan ku katakan suka
Tak ku tutupi ku katakan sejujurnya
Jika ku suka kan ku katakan suka
Dari hatiku dengan tulus ku katakan

Lalalalala lalalalalalala
Lalalalala lalalalalalala
Lalalalala lalalalalalala
Lalalalala lalalalalalala

Aitakatta, aitakatta, aitakatta, yes!
Aitakatta, aitakatta, aitakatta, yes! denganmu, aitakatta!

Februari 06, 2013

Cerita JKT48

Matahari telah berada di ufuk
barat bersiap untuk
menenggalamkan panasnya. Di
rumah sakit shania yang sudah di
temani kembali oleh mbo nah dan
pa warman, yang tadi mencari
shania kemudian di tunjukan oleh
seseorang yang mengenali ciri-ciri
shania dari pertanyaan mbo nah
ke rumah sakit ini.
Shania Menunggui kinal yang
sudah di pindah ke ruang rawat
setelah tadi 4 jam lebih di ruang
UGD di tangani dokter. Tak lama
kemudian ibu kinal datang
dengan setengah berlari
menghampiri bangsal tempat kinal
berbaring, shania yang sedang
duduk di sebelah kinal langsung
berdiri.
"ya tuhan kaka, apa yang sudah
terjadi?" ibu kinal mengelus halus
rambut kinal dengan matanya
mengeluarkan tangis ke
hawatiran.
"maafin aku tante.." shania
bersuara, membuat ibu kinal
mengalihkan pandangannya
"kamu nak, yang tadi
menghubungi ibu?" tanya ibu
kinal, shania mengangguk seraya
menjelaskan kejadian yang
menimpanya dan yang membuat
kinal sampai akhirnya pingsan
dan harus di bawa ke rumah sakit.
Ibu hanya bisa meneteskan air
mata mendengar cerita shania, ibu
duduk di sebelah kinal sambil
memegang lembut tangan kinal.
Setelah kejadian konyol tadi.
Melody, sonya dan mova akhirnya
ikut gabung di kamar nabilah.
mereka asik membangun obrolan
sampai Terlihat ayana berbisik
pelan ke nabilah, sonya yang
melihat hal itu dengan cepat
menegur "hey, kenapa bisik-bisik
gitu? Ga sopan tau! Disini ada lebih
dari 2org!" membuat ayana kaget
"engga ka, maaf, itu.. tadi aku
bisik ke nabilah soal... Soal
nanyain kaka yang itu" jawab
ayana sambil menunjuk ke arah
mova,
"aku?!" ucap mova sambil
menunjuk diri sendiri
"ia, kaka! Kaka bukannya ka
Alissa Galliamova itu ya?!" tanya
ayana dengan wajah tak percaya
nya
"ia, aku emang yang kamu
sebutin" jawab mova
"berarti bener dong! Kaka artis
kan? Yang sekarang lagi jadi
pemeran utama Aisyah di sinetron
'Aku Bukan Aisyah'?!" ayana
kembali bertanya begitu antusias,
cindy yang mendengar hal itu
ikut-ikutan angkat bicara "hah!
'Aku Bukan Aisyah' itu kan
sinetron yang sering di tonton
sama kaka sama bunda aku.."
sambil menatap wajah mova. "ia!
Itu emang ka mova.." jawab
nabilah dengan nada datarnya
"jadi beneran kaka ka alissa!"
ucap ayana, dia merangkak
mendekat ke mova. Mova
tersenyum melihat tingkah ayana
"aaaa,, bil, bil.. Photo in aku dong!
Cepetan nabilah!" ayana
memberikan ponselnya pada
nabilah.
"aku ikutan." seru cindy, ikut
mendekat ke arah mova. melody
tersenyum melihat tingkah dari
teman-teman adiknya ini.
Melihat ayana, cindy, dan nabilah
yang saling bergiliran photo
bersama mova, Akhirnya sonya
mengusulkan untuk photo-photo
bareng. nabilah, melody, ayana,
mova, dan cindy pun mengikuti
dengan senang hati. Dengan pose
nya masing-masing mereka saling
bergiliran: pose ber2, ber4, sampai
berbarengan semuanya. Dengan
kamera digitalnya disimpan di
atas meja belajar nabilah.
Setelah melakukan beberapa pose,
tiba-tiba ponsel cindy berdering.
Dengan cepat cindy
mengambilnya, dan segera
menekan tombal accept
"halo, bunda.." ucap cindy, "apa!
Ko bisa? Kenapa bunda? Tapi ka
kinal ga parah kan bunda?! Terus
sekarang di rumah sakit mana?!"
cindy begitu terdengar hawatir
setelah mendengar penjelasan
ibunya tentang kondisi kinal dan
menyuruh cindy untuk datang ke
rumah sakit. "cindy sekarang
kesana bunda" kata cindy seraya
mematikan ponselnya.
Nabilah dan ayana yang sudah ada
di dekat cindy saat tadi cindy
mengucapkan kata rumah sakit
menanyakan apa yang terjadi
"aku pamit dulu ya nabilah, aku
harus ke rumah sakit!" ucap cindy,
tidak begitu memperdulikan
pertanyaan nabilah dan ayana
"ia tapi kenapa? Apa yang terjadi
sama ka kinal?!" nabilah kembali
bertanya
"kata bunda 'kaka masuk rumah
sakit, abis berantem sama preman
yang gangguin temennya'" jawab
cindy dengan wajah begitu cemas,
"ya sudah biar ka melody antar
kamu ke rumah sakit!" ucap
melody yang sedari tadi menyimak
"jangan ka, nanti malah
ngerepotin" jawab cindy
"udah ga apa-apa, dari pada
sekarang kamu sendirian ke
rumah sakit, dengan pikiran kamu
yang mencemaskan kaka kamu.
Kalo terjadi apa-apa di jalan
gimana?" tutur melody, "tapi,
ka.." "ga usah banyak tapi, kalo
kamu masih terus bicara kita ga
akan berangkat-berangkat!"
melody memotong ucapan cindy.
Merekapun berangkat ke rumah
sakit tanpa mova, karena mova
harus kembali ke lokasi syuting
menjalankan aktifitasnya.
Jam 21.00. melody, nabilah, sonya
dan ayana berpamitan pada
ibunya kinal. Sebelum pulang
nabilah dan ayana memeluk cindy,
mereka memberikan semangatnya
"ka kinal pasti baik-baik aja, dia
kan kuat" kata nabilah
"ka kinal itu... Kaka favorit aku, di
pasti bisa ngelawatin semuanya"
ayana ikut bicara.
"makasih ya.." balas cindy.
Melody yang melihat hal itu,
merasakan iri. Dia melihat nabilah
begitu dekat dengan ibunya cindy,
dengan cindy, dan bahkan
sepertinya dengan kakanya cindy
juga. Nabilah terlihat hawatir dan
mencemaskan kinal yang adalah
kaka dari sahabatnya. Terbersit
dalam benak melody
"apa nabilah juga akan sehawatir
dan secemas ini jika aku yang
berbaring di bangsal itu?".
..bersambung..